Minggu, 30 Juli 2023

Berdasarkan Tatanan Sosialnya Kenakalan Atau Kejahatan Remaja Tersebut Dikategorikan Sebagai

Berdirinya Federasi Malaysia pada tahun 1963 tidak hanya menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat di wilayah yang terlibat, tetapi juga menarik perhatian dari negara-negara di sekitarnya. Salah satu negara yang menentang pendirian Federasi Malaysia adalah Filipina. Filipina memiliki beberapa alasan yang mendasari penolakan mereka terhadap pembentukan federasi tersebut.

Salah satu alasan utama yang dikemukakan oleh Filipina adalah klaim teritorial mereka terhadap wilayah Sabah yang saat ini merupakan bagian dari Malaysia. Filipina menganggap wilayah tersebut sebagai bagian dari klaim mereka yang dikenal sebagai ‘Kesultanan Sulu’. Kesultanan Sulu adalah kerajaan yang pernah menguasai wilayah-wilayah di sekitar Laut Sulu, termasuk Sabah. Filipina berpendapat bahwa Sabah seharusnya menjadi bagian dari wilayah mereka, bukan wilayah Malaysia. Oleh karena itu, Filipina menentang pembentukan Federasi Malaysia karena dianggap melanggar klaim teritorial mereka.

Filipina juga mengkhawatirkan implikasi politik dari pembentukan Federasi Malaysia. Mereka melihat Malaysia sebagai sebuah entitas yang akan mengurangi pengaruh mereka di kawasan tersebut. Filipina khawatir bahwa Malaysia akan menjadi kekuatan dominan di kawasan tersebut dan dapat mengancam stabilitas politik dan kepentingan Filipina di wilayah tersebut. Mereka percaya bahwa Federasi Malaysia dapat menggoyahkan posisi dan kekuatan mereka sebagai negara tetangga.

Aspek lain yang menjadi alasan penolakan Filipina terhadap Federasi Malaysia adalah masalah hak asasi manusia. Mereka mengkhawatirkan perlakuan terhadap kelompok etnis Filipina di wilayah Sabah. Filipina mendesak agar hak-hak etnis Filipina dihormati dan dilindungi dalam konteks pembentukan Federasi Malaysia. Mereka menganggap bahwa adanya federasi tersebut dapat mengancam hak-hak etnis Filipina dan memicu konflik etnis di wilayah tersebut.

Dalam upayanya menentang Federasi Malaysia, Filipina mengajukan klaim mereka ke PBB dan mencoba mendapatkan dukungan dari negara-negara lain di kawasan. Mereka juga melakukan upaya diplomatik untuk memperjuangkan klaim teritorial mereka atas Sabah. Namun, meskipun usaha Filipina tersebut, Federasi Malaysia tetap terbentuk dan diakui oleh banyak negara.

Meskipun penolakan Filipina terhadap Federasi Malaysia pada awalnya menimbulkan ketegangan antara kedua negara, hubungan bilateral kemudian membaik. Pada tahun 2013, kedua negara mencapai kesepakatan yang dikenal sebagai ‘Framework Agreement on the Bangsamoro’. Kesepakatan ini mengakhiri klaim teritorial Filipina terhadap Sabah dan mengakui kedaulatan Malaysia atas wilayah tersebut.

Penentangan Filipina terhadap Federasi Malaysia pada saat berdirinya dipengaruhi oleh berbagai alasan, termasuk klaim teritorial, kekhawatiran politik, dan masalah hak asasi manusia. Meskipun demikian, upaya diplomasi dan perundingan akhirnya membawa kedua negara ke titik penyelesaian yang dapat mengatasi perbedaan mereka.